5 Fakta Terkait Rencana Merger Bank Syariah BUMN

0

Bank syariah anak usaha bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melangsungkan mega merger (penggabungan) menjadi satu entitas bank. Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, legal merger bakal terjadi pada Februari 2021.

Adapun prosesnya sudah berlangsung saat ini. Ketiga bank telah menyepakati penggabungan dan telah menadatangani suatu perjanjian penggabungan bersyarat pada Senin (12/10/2020). Ketiga bank tersebut, antara lain terdiri dari BRISyariah, PT Bank Syariah Mandiri dan PT Bank BNI Syariah.

Mandiri Syariah memiliki fokus di segmen kredit korporasi, sedangkan BRI Syariah memiliki fokus pada penyaluran pembiayaan di segmen UMKM.

Wakil Presiden RI, Ma’ruf Amin mengatakan, merger bank syariah bisa menjadi salah satu cara yang ditempuh untuk memulihkan ekonomi nasional.

Pasalnya, merger bank-bank kecil menjadi bank besar lebih berpotensi melayani proyek-proyek besar atau kegiatan ekonomi yang lebih besar. Tentu hal ini mendorong pemulihan ekonomi nasional, apalagi saat ini Indonesia masih belum memiliki bank syariah besar untuk jadi pusat keuangan syariah dunia.

“Sebaiknya tidak terlalu banyak bank yang potensinya kecil-kecil. Oleh karena itu, bank syariah hasil merger bisa berperan untuk kepentingan dalam negeri dan luar negeri,” kata Ma’ruf beberapa waktu lalu.

1. BRISyariah jadi bank survivor

Dalam keterbukaan informasi BRIS, BRISyariah bakal menjadi bank survivor alias entitas yang menerima penggabungan (surviving entity) usai merger dilakukan oleh 3 bank syariah BUMN.

“Memperhatikan Perjanjian Penggabungan Bersyarat, setelah penggabungan menjadi efektif, BRIS akan menjadi entitas yang menerima penggabungan (surviving entity) dan pemegang saham BNIS dan BSM akan menjadi pemegang saham entitas yang menerima penggabungan,” tulis keterbukaan informasi, Selasa (13/10/2020).

Penggabungan yang direncanakan hanya akan menjadi efektif setelah diperolehnya persetujuan-persetujuan dari otoritas-otoritas yang berwenang. Sekaligus dengan memperhatikan ketentuan anggaran dasar dari masing-masing pihak serta ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Berita BRISyariah menjadi bank survivor membuat harga sahamnya melesat di perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (13/10/2020).

Mengutip data RTI pukul 12.09 WIB, harga saham BRIS naik 225 poin atau 25 persen di level Rp 1.125 per unit dari Rp 920 pada pembukaan perdagangan pagi ini. Nilai transaksinya pun hampir menyentuh angka Rp 1 triliun, yakni sebesar Rp 981,06 miliar dengan volume mencapai 908,01 juta saham. Tak ayal, BRIS menjadi salah satu top gainers pada perdagangan sesi I ini.

2. Potensi jadi top 10 bank syariah global

Ketua Project Merger Officer Hery Gunardi mengatakan, tujuan penggabungan bank syariah Himbara ini agar Indonesia bisa memiliki bank syariah yang besar dan dapat bersaing di kancah global.

Dengan merger, bank syariah di Indonesia ini berpotensi jadi top ten bank syariah global dari segi kapitalisasi pasar (market cap). Diperkirakan dengan penggabungan itu, maka bank syariah ini akan memiliki total aset sebesar Rp 220 triliun sampai Rp 225 triliun. Angka itu didapat dari posisi aset tiga bank syariah anak usaha Bank BUMN dan satu UUS BTN per Juni 2020.

Aset terbesar dimiliki PT Bank Syariah Mandiri dengan total aset sebesar Rp 114,4 triliun pada Juni 2020 atau meningkat 13,26 persen dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy). Kemudian disusul dengan BNI Syariah dengan aset Rp 50,78 triliun atau tumbuh 17,8 persen yoy dan BRI Syariah tumbuh 34,7 persen yoy sebesar Rp 49,6 triliun. Adapun aset UUS BTN Rp 31,09 triliun atau tumbuh 6,5 persen yoy.

“Tentunya ini akan menempati posisi sekitar 7 atau 8 perbankan top ten di Indonesia. Jadi cukup bagus posisinya,” ujar Hery yang juga menjabat sebagai Plt Direktur Utama Bank Mandiri itu pada Selasa (13/10/2020).

Merger juga berpotensi membuat aset bank syariah memiliki aset Rp 390 triliun di tahun 2025 mendatang. Selain total aset, mergernya tiga bank syariah BUMN itu akan mampu menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 272 triliun dan pendanaan Rp 330 triliun.

3. Diklaim Tidak ada PHK Karyawan

Meski mengalami penggabungan, tak akan ada dampak bagi karyawan di tiga bank syariah BUMN itu. Hery memastikan, tidak ada satupun karyawan yang bakal kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Keseluruhan karyawan tersebut akan diintegrasikan untuk membangun bank syariah besar di Indonesia, alih-alih di-PHK. “Tiga bank syariah ini berkomitmen, dengan adanya penggabungan ini tidak ada yang namanya pengurangan karyawan. Jadi semua karyawan akan diangkut ke bank yang baru nanti,” ujar Hery.

4. Susunan manajemen integrasi

Berdasarkan dokumen yang diterima Kompas.com, bank hasil merger ini akan diketuai oleh Dirut PT Bank Mandiri Syariah Tony EB Subari. Jajaran struktur manajemen integrasi itu terbagi dalam 8 tim, di antaranya Branding & communication, Accounting & finance, Product, Distribution, Technology & operation, HR & culture, Risk & credit, serta Treasury.

Dirut BNIS Abdullah Firman Wibowo bakal menjadi ketua Branding & Comm. Direktur BSM Ade Cagyo Nugroho menjadi ketua Accounting & finance. Sedangkan Dirut BRIS, Ngatari, bakal menjadi ketua tim Distribution.

5. Merger rampung Februari 2021

Usai menandatangani conditional merger agreement (CMA) pada Selasa (13/10/2020), bank syariah ini bakal mengurus perizinan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan ke pasar modal. Nantinya akan dilakukan pemetaan produk, foot print cabang, penggunaan teknologi dan penggantian logo bank. Diharapkan pada Februari 2021 merger bank syariah BUMN ini rampung.

Sumber: Kompas.com

Share.

About Author

Comments are closed.